Ibn Katsir berkata ; “Kemunafikan adalah menampakkan kabaikan dan
menyembunyikan kejelekan, kemunafikan ada bermacam-macam ; I’tiqadiy
(kemunafikan dalam I’tiqad) inilah kemunafikan yang pemiliknya abadi
dalam neraka. Amaliy (kemunafikan dalam beramal) dan ia termasuk dosa
paling besar.”
Nifaq I’tiqady
Kemunafikan dalam I’tiqad adalah dengan menampakkan keislaman tapi dalam hati menyimpan kekufuran.
Allah berfirman ;
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah
dan Hari kemudian” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang
yang beriman. (Al-Baqarah 8 )
Tafsir Ibn Katsir
Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan tentang pertama kali
kemunculan golongan munafikin yaitu semenjak kemenangan umat Islam dalam
perang Badr. Beliau berkata ;
“Sifat-sifat munafikin hanyalah turun dalam surat-surat Madaniyyah,
dikarenakan kota Makkah tidak terdapat didalamnya kemunafikan. Bahkan
yang ada adalah sebailknya; (yakni) sebagian orang menampakkan kekufuran
dengan terpaksa sedang di batinnya ia beriman.”
Beliau melanjutkan ; “Kemudian ketika Rasulullah sampai di Madinah
masuk Islam-lah orang-orang yang masuk Islam dari qabilah Aus dan
Khazraj, sedang sedikit orang yahudi yang masuk Islam kecuali Abdullah
bin Salam Ra. Pada masa itu juga belum muncul kemunafikan dikarenakan
umat islam setelah itu tidak mempunyai suatu kekuatan yang ditakuti.
Bahkan Nabi malah mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi dan suku-suku
Arab di sekitar Madinah. Kemudian ketika terjadi perang Badr yang besar
dan Allah menampakkan kalimatnya, dan memuliakan Islam dan pemeluknya,
berkatalah Abdullah bin Ubay bin Salul,
-Dahulu ia merupakan pemimpin di kota madinah, ia dari qabilah
Khazraj, dan ia merupakan pemimpin dua qabilah (Aus dan Khazraj) di masa
Jahiliyyah, dan mereka telah bertekad menjadikan ia raja bagi mereka.
Tiba-tiba datanglah kebaikan lalu mereka masuk islam, dan sibuk darinya
(Abdullah bin Ubay), jadilah dalam dirinya terdapat kedengkian terdapat
islam dan pengikutnya-
Maka ketika terjadi perang Badr ia berkata ; “Inilah perkara Allah
telah menghadap” kemudian ia menampakkan masuk dalam agama islam, dan
masuk pula besertanya golongan-golongan yang sejalan dengan jalan dan
pendapatnya, dan juga golongan lain dari Ahli Kitab, dan dari sinilah
ditemukan kemunafikan pada penduduk Madinah.”
Al-Mal’uun Snouck Hurgronje
Golongan munafik Abdullah Bin Ubay ini tak henti-hentinya memusuhi
kaum muslimin, akan tetapi usaha apapun yang mereka lakukan selalu gagal
berkat pertolongan Allah Swt.
Golongan ini mulai lenyap sepeninggal Abdullah Bin Ubay akibat taktik
jitu Rasulullah yang memberikan bajunya untuk dijadikan kain kafan
baginya sehingga menarik hati para pengikutnya.
Walaupun begitu tidak lantas mereka lenyap begitu saja, sejarah telah
mencatat para penerus Abdullah bin Ubay yang berusaha menghancurkan
Islam dari dalam. Sebut saja Abdullah bin Saba’ orang yahudi yang
memiliki kedengkian yang dalam terhadap Islam dan berhasil memecah belah
umat Islam sehingga muncullah golongan Syi’ah. Begitu pula kita lihat
tipu daya yang dilakukan Snouck Hurgronje terhadap kaum muslimin
Indonesia yang akibatnya masih dapat kita lihat hingga sekarang.
Ancaman Bagi Orang Munafik Dalam I’tiqad
Mengingat kekufuran yang dilakukan kaum munafik lebih parah dan lebih
berhaya dibanding orang kafir biasa, maka sebanding dengan itu, Allah
menyiapkan bagi mereka siksa yang lebih pula.
Allah berfirman ;
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan
yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat
seorang penolongpun bagi mereka. (An-Nisa’ 145)
Yakni kaum munafikin tempatnya adalah neraka paling bawah, dibawahnya Nasrani, Yahudi, dan kaum musyrikin.
Ibn Umar berkata ;
إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة ثلاثة: المنافقون، ومن كفر من أصحاب المائدة، وآل فرعون
Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari Kiamat
ada tiga ; kaum munafik, dan orang yang kafir dari Ashabul Ma’idah (kaum
nabi Isa yang diturunkan pada mereka makanan dari langit), dan para
pengikut Fir’aun.
Bagaimana hukumnya orang munafik
Secara umum kaum munafik dihukumi seperti halnya kaum muslim lainya
karena memandang dari segi dzahirnya. Dan mereka masih dihukumi muslim
walaupun mereka menampakkan kekufuran mereka selagi setelah itu mereka
kembali menampakkan keislamannya.
Itulah sebabnya Nabi Saw tidak mau membunuh Abdullah bin Ubay
walaupun telah banyak perbuatannya yang menunjukkan kekufurannya. Allah
berfirman ;
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ
فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا
بَلِيغًا
Mereka itulah (Munafikin) orang-orang yang Allah mengetahui apa
yang di dalam hati mereka. Maka dari itu berpalinglah kamu dari mereka,
dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka.(An-Nisa’ 63)
Perintah Allah agar berpaling dari mereka menunjukkan larangan untuk
membunuh mereka, bahkan sebaliknya, Allah memerintahkan untuk menasehati
mereka.
Nabi berkata kepada sahabat Umar ketika beliau meminta ijin untuk membunuh Abdullah Bin Ubay ;
دَعْهُ لاَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
Biarkanlah ia, jangan sampai orang-orang berkata bahwa muhammad membunuh sahabatnya. (HR. Muslim)
Imam Syafi’i berkata “Rasulullah mencegah membunuh orang-orang
munafik selagi mereka menampakkan keislaman padahal beliau mengetahui
kemunafikan mereka adalah karena apa yang mereka tampakkan (keislaman)
menghapus apa-apa yang (terjadi) sebelumnya”
Namun jika mereka tidak kembali menunjukkan keislamannya maka mereka
dihukumi murtad, karena itu Allah memerintah membunuh orang-orang
munafik yang bekerjasama dengan orang kafir memusuhi orang Islam dalam
firmannya ;
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ
اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ
وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرً
Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah
menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah
kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka
berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tangkap dan
bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil
seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi
penolong. (An-Nisa’ 89)
Ibn Abbas berkata ; “Ayat ini turun pada kaum yang mengatakan
keislaman, sedang mereka berkerjasama dengan kaum musyrikin. Maka (suatu
ketika) mereka keluar dari makkah lalu berkata ; “Jika kita bertemu
pengikut Muhammad, maka tidak ada bahaya bagi kita”. Kaum mukminin
ketika diberi kabar bahwa mereka keluar dari Makkah, berkata segolongan
dari mereka ; “Pergilah kepada para pengecut lalu bunuhlah mereka!
Sesungguhnya mereka bekerjasama dengan musuhmu untuk memusuhimu”.
Golongan mukmin yang lain berkata ; “Subhanallah!, apakah kalian akan
membunuh orang yang mengucapkan ucapan yang sama seperti yang kalian
ucapkan (syahadat)? Apakah karena mereka tidak mau hijrah dan
meninggalkan tempat tinggal mereka kalian menghalalkan darah dan harta
mereka?”. Jadilah mereka terbagi menjadi dua golongan, sedang Rasul
disisi mereka tidak melarang salah satu diantara mereka dari satu
apapun, sehingga turunlah ayat ;
“فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ”
Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik? (An-Nisa’ 88) -yakni ayat sebelum ayat diatas-
Singkatnya ayat فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ dan ayat sesudahnya yaitu وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا
Itu menyalahkan sikap kaum mukmin terbagi menjadi dua golongan dalam
mensikapi kaum munafikin, ada yang menginginkan untuk membunuh mereka
ada yang tidak. Lalu Allah menegaskan agar kaum mukmin menangkap dan
membunuh mereka dimanapun mereka temui.
Dan hendaknya diketahui bahwa diantara yang menyebabkan kekafiran
adalah bekerjasama dengan orang kafir dalam memusuhi orang Islam seperti
yang saya jelaskan dalam “Hal-hal yang menyebabkan kafir atau keluar dari Islam”.
Inilah yang membedakan mereka dari ahli bidah yang sampai menyebabkan
kekafiran, karena ahli bid’ah macam ini ketika tampak dari mereka
kekufuran biasanya mereka tidak lantas segera menutupinya bahkan mereka
berusaha menyebarkan kesesatan mereka sehingga dengan begitu mereka
harus dibunuh karena berarti telah keluar dari agama Islam. Rasul
bersabda ;
من بدل دينة فاقتلوه
“Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah ia!” (HR. Bukhori)
Karena itu kita harus jeli dalam hal ini, karena saya lihat beberapa
ulama terkesan menyamakan hukum antara kaum munafik dan ahli bid’ah yang
kufur. Contoh paling gampang adalah orang Liberal dan jamaah Ahmadiyyah
mereka tidak dapat dihukumi seperti halnya kaum munafik jaman Nabi
dengan artian tidak boleh dibunuh, karena dengan jelas mereka
menampakkan kekufurannya dan tidak berusaha menutupinya, yang dengan
demikian tidak sesuai dengan definisi kemunafikan itu sendiri yaitu ;
menampakkan kabaikan dan menyembunyikan kejelekan.
Berbeda jika ahli bid’ah tersebut menyembunyikan kekufurannya seperti
yang dilakukan kaum Syiah denga ajaran Taqiyyahnya maka dengan itu
mereka bisa dihukumi sama dengan kaum munafik.
Namun untuk penentuan dalam masalah ini tidak bisa diserahkan pada masyarakat biasa dan harus diserahkan pada seorang imam.
Nifaq Amaly
Nifaq dalam perbuatan adalah dengan melakukan perbuatan maupun
shifat-shifat orang munafik. Penyebab kemunafikan ini adalah lemahnya
iman. Nifak Amaly sangat banyak macamnya, karena mencakup setiap sifat
maupun perbuatan orang munafik (selain menyembunyikan kekafiran
tentunya) yang disebutkan Alquran maupun hadist.
Ketika anda membaca Alquran kemudian sampai pada sifat-sifat
munafikin coba anda cocokkan ; apakah diantara sifat-sifat itu ada yang
menempel pada diri anda? Jika ya berarti terdapat kemunafikan dalam diri
anda dan segeralah bertobat kepada Allah yang maha pengasih.
Namun yang terpenting, yang perlu anda cermati dan pahami dan lakukan
adalah mengembalikan sikap dan perbuatan anda kepada definisi
kemunafikan itu sendiri yakni ; menampakkan kebaikan dan menyembunyikan
kejelekan, apakah anda termasuk didalamnya atau tidak.
Diantara sifat dan perbuatan kaum munafik
Dalam hal ini kami akan mencoba menunjukkan beberapa sifat munafik yang banyak terjadi dikalangan umat islam.
1-Malas, Riya’, dan tidak Khusyuk dalam beribadah terutama Shalat
Jangan samapai lalai shalat
Yang paling kentara dalam hal ini adalah shalat, banyak kaum muslim
yang malas shalat, lalai bahkan tak jarang meninggalkannya. Allah
berfriman ;
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ
وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa’ 142)
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Al-Maa’uun 4,5,6,7)
Begitulah salatnya kaum munafik, mereka malas ketika hendak
melaksanakannya, ketika mereka melaksanakannya mereka melaksanakannya
dengan riya’ dan tidak dalam keadaan khusyuk . Mereka juga sering
“lalai” dalam melaksanakanya yakni dengan mengakhirkannya dari waktunya
atau melaksanakannya tidak dengan menepati syarat rukunnya .
Rasul bersabda ;
تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ
حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا
أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً
Itulah shalatlah munafik, duduk menanti matahari sehingga ketika
matahari berada diantara dua tanduk syaithon, ia berdiri lalu ia
mentotolnya (sujud dengan cepat-cepat) empat kali tidak mengingat Allah
di dalamnya kecuali sedikit. (HR. Muslim)
Mereka juga paling malas ketika harus shalat berjamaah dalam masjid
memenuhi panggilan Allah. Terutama ketika shalat isyak dan shalat subuh,
Rasul Saw bersabda ;
إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ
Sesungguhnya salat yang paling berat pagi kaum munafik adalah salat Isyak dan Salat Fajar. (HR. Muslim)
Ibn Mas’ud berkata ;
لقد رأيتُنا وما يتخلَّف عن الصلاة إلا منافق قد عُلِمَ نفاقُه ، أو مريض ، إن كان المريضُ لَيَمشي بين رَجُليْنِ حتى يأتي الصلاةَ
“Kalian telah mengetahui kita, dan tidak tertinggal dari shalat
(jamaah) kecuali munafik yang diketahui kemunafikannya, atau orang
sakit, (Bahkan) sesungguhnya orang sakit berjalan diantara dua lelaki
(dibopong) sehingga mendatangi shalat”. (HR. Muslim)
Seperti kita ketahui, shalat adalah pokok ibadah barang siapa
shalatnya baik maka yang lain otomatis juga baik. Karena itu jika
seseorang shalatnya tidak baik maka bisa dipastikan ibadah yang lain
juga tida baik. Dan bisa juga dikatakan ; “jika disuruh shalat saja
malas apalagi ibadah-ibadah yang lainnya”.
2-Dalam hal beragama mereka hanya mau mengambil yang enak saja
Sifat seperti ini juga banyak terjadi dikalangan kaum muslimin, Allah berfirman ;
كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا
Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah
sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. (Al-Baqarah)
Ibn Abbas berkata ; “Setiap kaum munafikin tertimpa sebagian
kemuliaan Islam mereka merasa tenang padanya dan ketika Islam tertimpa
bencana mereka berdiri untuk kembali pada kekufuran”.
Allah berfirman ;
وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ
مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ
شَهِيدًا، وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ
لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ
مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا
Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat
berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah
ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya
karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.
Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah,
tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih
sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama
mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar”. (An-Nisa’ 72-73)
Karena itu Rasul Saw bersabda ;
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barang siapa mati dan tidak pernah berperang, dan tidak terlintas
dalam dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas suatu cabang
kemunafikan (HR. Muslim)
Ya itu karena orang munafik paling malas disuruh melakukan sesuatu yang berat-berat.
4-Berbohong, ingkar janji, dan tidak bisa dipercaya
أَرْبَعٌ مَنْ كنَّ فِيهِ كَانَ مُنافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ
كانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ
حَتّى يَدَعَهَا: إِذا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذا عاهَدَ غَدَرَ، وَإِذا خَاصَمَ فَجَرَ
Empat perkara yang jika empat perkara itu ada pada diri
seseorang, maka ia adalah munafik yang murni (kemunafikannya), sedang
yang padanya terdapat satu diantaranya, maka didalamnya terdapat
sifat-sifat kemunafikan sehingga ia meninggalkannya ; jika dipercaya ia
berkhianat, jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak
menepati, jika berdebat ia berbuat lacut.
Allah berfirman ;
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang
yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah
orang-orang pendusta. (An-Nahl 105)
Ibn Jarir At-Thabari meriwayatkan ;
قال أبو الدرداء يا رسول الله هل يسرق المؤمن قال قد يكون ذلك
قال فهل يزني المؤمن قال بلى وإن كره أبو الدرداء قال هل يكذب المؤمن قال
إنما يفتري الكذب من لا يؤمن إن العبد يزل الزلة ثم يرجع إلى ربه فيتوب
فيتوب الله عليه.
Abu Dardak berkata ; “Wahai Rasulullah apakah (mungkin) seorang
mukmin mencuri?” Rasul berkata ; “Ya terkadang itu terjadi”. Abu dardak
berkata “apakah (mungkin) seorang mukmin berzina?” Rasul berkata ;”Ya,
Walau Abu dardak tidak suka.” Abu Dardak berkata ; “Apakah (mungkin)
seorang mungkin berbohong?” Rasul menjawab ; “Sesungguhnya yang
mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman.
Sesungguhnya seorang hamba terpeleset dalam kesalahan kemudian ia kembali kepada tuhannya lalu bertobat, maka Allah menerima tobatnya”
5-Bermuwaalah dengan orang kafir, bangga dengan mereka serta mencari keselamatan, kesuksesan, dan kemuliaan dari mereka
Kemesraan Raja Saudi dan Bush
Inilah hal menyedihkan yang kita dapati dari kaum muslimin, mereka
tidak bangga dengan agama mereka sendiri, mereka memilih meniru-niru
orang kafir, bangga jika mengikuti gaya hidupnya, bangga jika memakai
produk merek buatan orang kafir ditambah lagi para pemimpin kaum muslim
yang tak malu menjilat orang kafir untuk sebuah keselamatan, demi
melindungi kekuasaan mereka, atau demi seonggok bantuan duniawi.
Allah berfirman ;
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا،
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ
الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ
لِلَّهِ جَمِيعًا
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat
siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang
kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang
mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka
sesungguhnya kemuliaan keseluruhannya adalah milik Allah. (An-Nisa’
138-139)
Kemulian, kesuksesan, keunggulan yang kalian cari hanyalah dengan menjalankan agama Islam!
Allah juga berfirman ;
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ
يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ
يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا
أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam
hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan
Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana. Maka
mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya),
atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Lalu jadilah mereka menyesal
terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al-Maidah 52)
6-Menolak berlakunya syariat Islam
At-taturk Pelopor Sekulerisme dalam Islam
Hal ini dapat kita temukan pada orang-orang penganut sekulerisme, Allah berfirman ;
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ
وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kita menuju kepada
hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu
lihat orang-orang munafik berpaling dari engkau dengan sekuat-kuatnya. (Al-Maidah 61)
Ya beginilah kelakuan pengikut sekulerisme, ketika ditanya mengapa,
mereka akan menjawab bahwa tujuan mereka adalah baik ; mencegah
indonesia dari perpecahan, mengatakan hukum islam sudah tidak layak
dengan zaman sekarang, dsb.
فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ
أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا
إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا
Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik)
ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri,
kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami
sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan
perdamaian (kompromi).” (An-Nisa’ 62)
7-Menyebarkan kerusakan (bermaksiat) dan ketika dinasehati atau ditunjukkan kepada kebenaran ia menyangkal dan bersikap sombong
Allah berfirman ;
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”,
kesombongan akan berbuat dosa menguasainya. Maka cukuplah baginya neraka
Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang
seburuk-buruknya. (Al-Baqarah 206)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا
إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ
وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi”, Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang
yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah
orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(Al-Baqarah 11-12)
Obat penyakit nifaq
Inilah diantara sifat dan perbuatan kaum munafik yang banyak kita
temui, dan seperti yang telah disebutkan bahawa kemunafikan timbul
karena lemahnya iman, maka dengan begitu obat dari kemunafikan adalah
dengan menguatkan iman. Lalu bagaimanakah caranya? Caranya adalah dengan
meningkatkan pengetahuan agama kita dengan cara mempelajari Al-Quran.
Allah berfirman ;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ
وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ
إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Ayat diatas menunjukkan bahwa Al-Quran mampu meningkatkan iman.
Al-Quran juga merupakan obat bagi penyakit terutama penyakit dalam hati yang diantaranya adalah kemunafikan ;
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah
kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra’ 82)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ
رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus 57)
Karena itu tiada pilihan lain bagi kita jika ingin terbebas dari
kemunafikan dan menjadi mukmin sejati selain dengan mempelajari dan
memahami Al-Quran. Waallahu A’lam.
0 comments:
Post a Comment
Selalu indah dengan kata-kata yang indah pula