Faidah I: KAIDAH PENTING
Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Mengingkari kemungkaran memiliki empat
tingkatan:
- Pertama: Apabila kemungkaran tersebut hilang dan berganti sebaliknya
- Kedua: Apabila mengecil sekalipun tidak hilang seluruhnya,.
- Ketiga: Apabila berganti dengan kemungkaran semisalnya.
- Keempat: Apabila berganti kepada yang lebih parah darinya.
Tingkatan pertama dan kedua
disyari’atkan
Tingkatan ketiga perlu pertimbangan
Tingkatan keempat hukumnya haram.
Lanjut beliau: “Saya mendengar Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah -semoga Allah menerangi kuburnya- berkata:
Pada zaman pasukan Tatar, aku bersama para
kawanku pernah melewati orang-orang lagi asyik minum khamr, seorang kawan
mengingkari mereka namun aku menegurnya seraya kukatakan padanya: “Sesungguhnya
Allah mengharamkan khamr karena menghalangi manusia dari mengingat Allah dan
mengingat shalat, dan mereka apabila minum khamr maka mereka tidak membunuh,
menawan anak-anak dan merampok harta, jadi biarkan saja mereka”.[1]
Faidah II: INDAHNYA COBAAN
Imam adz-Dzahabi menceritakan dalam
Siyar A’lam Nubala’ 8/80-81
tentang cobaan yang menimpa Imam Malik bin Anas karena suatu fatwanya, dimana
beliau dipanggil oleh pemimpin saat itu, lalu dilepasi bajunya, dicambuki, dan
ditarik tangannya hingga terlepas tulang pundaknya, tetapi semua itu malah
menjadikan beliau setelah itu dalam ketinggian derajat. Imam adz-Dzahabi
berkomentar: “Demikianlah buah cobaan yang terpuji, dia mengangkat derajat
seorang hamba dalam hati orang-orang yang beriman!!”.
Faidah III:
JANGAN TERGESA-GESA
Hendaknya bagi setiap juru dakwah untuk saling
menyayangi dan saling memaafkan antara sesama. Bila ada suatu kabar miring
tentang saudaranya, maka janganlah dia tergesa-gesa meresponnya, hendaknya dia
mengecek kebenarannya terlebih dahulu karena betapa banyak kabar yang ternyata
hanya sekedar gosip semata, yang justru kerapkali meretakkan hubungan antara
para juru dakwah!!!. Rasulullah bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ
بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seorang dianggap berdusta apabila
dia menceritakan setiap yang dia dengar”.[2]
Dahulu dikatakan:
وَمَا آفَةُ الأَخْبَارِ إِلاَّ
رُوَاتُهَا
Dan apabila berita tersebut memang benar, maka
kedepankanlah husnu zhan
(baik sangka) kepada saudaramu dalam memahami ucapan atau
perbuatannya.
- Amirul mukminin Umar bin Khaththab berkata:
“Janganlah engkau menyangka jelek suatu kalimat
yang keluar dari saudaramu muslim sedangkan engkau
masih bisa mendapatkan ruang kebaikan dalam memahaminya”.[4]
FAIDAH IV: PUJIAN DAN CELAAN
Imam Ibnu Hazm
berkata: “Sebuah cara yang paling manjur untuk mendapatkan ketenangan adalah
mengabaikan omongan orang dan memperhatikan ucapan Sang Pencipta alam.
Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya bisa selamat dari celaan manusia, maka
dia telah gila.
- Seorang yang mencermati secara seksama -sekalipun ini pahit rasanya- niscaya akan mengetahui bahwa celaan manusia kepadanya justru lebih baik daripada pujian mereka, sebab pujian kalau memang benar maka bisa menyeretnya lupa daratan dan menimbulkan penyakit ‘ujub (bangga diri) yang akan merusak keutamaannya, namun apabila pujian itu tidak benar dan dia bergembira dengannya, maka berarti dia gembira dengan kedustaan. Sungguh ini kekurangan yang sangat.
- Adapun celaan manusia, kalau memang benar maka hal itu dapat mengeremnya dari perbutan yang tercela, dan ini sangat bagus sekali, semuanya pasti menginginkannya kecuali orang yang kurang akalnya. Namun apabila celaannya tidak benar dan dia sabar, berarti dia mendapatkan keutamaan sabar, dan akan mengambil pahala kebajikan orang yang mencelanya sehingga dia akan menuai pahala kelak di hari kiamat hanya dengan perbuatan yang tidak memberatkan. Sungguh ini adalah kesempatan berharga, semuanya pasti menginginkannya kecuali orang yang gila ”.[5]
FAIDAH V: JANGAN BERSEDIH
Saudaraku, janganlah engkau sedih hati dengan
sedikitnya orang yang menghadiri pengajianmu atau mendengarkan ceramahmu!
Ingatlah selalu hadits Nabi:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ, فَرَأَيْتُ
النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ,
وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
Dinampakkan kepadaku semua umat, lalu saya
melihat ada seorang Nabi bersama tiga hingga sembilan pengikutnya, ada seorang
nabi bersama satu atau dua pengikut, dan ada seorang nabi yang tidak memiliki
pengikut satupun[6].
- Mahmud bin Syukri al-Alusi berkata: “Seorang alim tidaklah berkurang kedudukannya hanya dikarenakan sedikitnya murid sebagaimana Nabi tidaklah berkurang kedudukannya dikarenakan sedikitnya pengikut”.[7]
Sekalipun hanya beberapa orang yang ingin
belajar kepadamu, maka ajarilah mereka ilmu yang Allah anugerahkan kepadamu,
semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu. Ingatlah selalu kisah-kisah para
ulama sebelum kita yang jauh lebih alim daripada kita.
- Imam Malik berkata: “Aku mendatangi Nafi’ ketika usiaku masih kecil bersama seorang temanku, beliaupun turun untuk mengajariku. Beliau duduk setelah shubuh di masjid, namun tidak ada seorangpun yang datang kepadanya”. [8]
- Imam Atha’ bin Robah, dia adalah seorang yang paling dicintai manusia, namun yang hadir di majlisnya hanyalah delapan atau sembilan orang saja”.[9]
FAIDAH VI: ADAB BERDIALOG
Pernah dikatakan kepada Hatim al-Asham[10]: “Engkau adalah orang ‘ajami (bukan Arab), kamu juga tidak fashih,
namun kamu selalu menang dalam berdebat, apa rahasianya?! Dia menjawab: Saya
memiliki tiga kunci dalam berdebat, aku bergembira apabila lawanku benar, aku
sedih bila dia salah, dan aku menjaga diriku untuk tidak menyakitinya”. Tatkala
ucapan ini sampai kepada Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkomentar:
“Subhanallah! Alangkah cerdasnya orang ini!!”. [11]
FAIDAH VII : CITA-CITA
مُنَايَ مِنَ الدُّنْيَا عُلُوْمٌ
أَبُثُّهَا وَأَنْشُرُهَا فِيْ كُلِّ بَادٍ وَحَاضِرِ
دُعَاءٌ إِلَى الْقُرْآنِ وَ السُّنَنِ
الَّتِيْ تَنَاسَى رِجَالٌ ذِكْرَهَا فِي الْمَحَاضِرِ
وَقَدْ أَبْدَلُوْهَا بِالْجَرَائِدِ
تَارَةْ وَتِلْفَازُهُمْ رَأْسُ الشُّرُوْرِ وَالْمَنَاكِرِ
وَبِالرَّادِيُوْ فَلاَ تَنْسَ
شَرَّهُ فَكَمْ ضَاعَ الْوَقْتُ بِهَا مِنْ خَسَائِرِ
Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu
Ke pelosok desa dan kota
Mengajak menusia kepada Al-Qur’an dan
Sunnah
Mereka menggantinya dengan koran
Dan Televisi mereka sumber kerusakan dan
kemunkaran
Dan juga Radio, jangan kamu lupakan
kejelekannya
Abu Ubaidah Yusuf
As-Sidawi
.
CATATAN KAKI:

[1] I’lam Muwaqqi’in, 4/339-340.
[2] HR. Muslim: 5.
[3] Ghoyah Nihayah
1/263, sebagaimana dalam An-Nadhair Bakr Abu Zaid hal. 301
[4] Dikeluarkan al-Mahamili dalam Al-Amali: 460.
[5] Mudawah Nufus hal. 80-81.
[6] Syaikh al-Albani berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang
sangat jelas bahwa banyak dan sedikitnya pengikut bukanlah timbangan benar atau
salahnya seorang dai”. Lanjutnya: “Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran bagi
para dai dan mad’u (yang didakwahi), seorang dai hendaknya terus maju dalam
kancah dakwah tanpa menghiraukan sedikitnya orang yang menerima dakwahnya,
karena kewajibannya hanyalah menyampaikan. Demikian pula bagi orang yang
didakwahi hendaknya tidak sedih karena sedikitnya orang yang menerima dakwah,
atau meragukan dakwah yang benar, apalagi menolaknya hanya dengan alasan
sedikitnya pengikut, seandainya dakwah yang benar tentu akan diikuti banyak
orang!!”. (Lihat Silsilah ash-Shahihah 1/2/755-756).
[7] al-Misku wal Idzhir hal. 198.
[8] Siyar A’lam Nubala’ 8/107.
[9] Siyar A’lam Nubala’ 5/84, lihat Ma’alim fi Thalabil
Ilmi, Abdul Aziz as-Sadhan hal. 310.
[10] Al-Asham adalah
gelar yang artinya tuli. Konon ceritanya, ada seorang wanita bertanya kepadanya
tentang suatu permasalahan, namun dengan tidak sengaja dia keluar kentut
bersuara, sehingga wanita tadi merasa malu. Untuk menjaga perasaannya, Hatim
berpura-pura tidak mendengar seraya berkata: “Keraskanlah suaramu”. Wanita
itupun merasa senang karena dia menduga Hatim tidak mendengar suara kentutnya.
Setelah itu Hatim terus menjadi tuli. (al-Muntadham 11/253)
[11] al-Muntadham fi Tarikhi Muluk wal
Umam, Ibnul Jauzi 11/254.
[12] Siyar A’lam Nubala 18/206. Adz-Dzahabi berkomentar: “Syairnya Ibnu Hazm ini sangat
indah sekali sebagaimana engkau lihat sendiri”.
[13] dari Madarik Nadhar Abdul Malik al-Jazairi
0 comments:
Post a Comment
Selalu indah dengan kata-kata yang indah pula